Dari streaming film dan musik, software, gym, hingga kotak kopi bulanan, model bisnis “subscription” atau ekonomi langganan telah meledak. Artikel ini menganalisis pergeseran psikologi konsumen dari “memiliki” produk menjadi “mengakses” layanan, serta dampaknya bagi bisnis dan risiko “subscription fatigue” (kelelahan berlangganan) yang dihadapi konsumen.
Model bisnis tradisional berfokus pada penjualan satu kali (transaksional). Namun, ekonomi langganan berfokus pada membangun hubungan jangka panjang (relasional). Bagi perusahaan, ini adalah anugerah: mereka mendapatkan aliran pendapatan yang dapat diprediksi (recurring revenue), data pelanggan yang kaya untuk personalisasi, dan loyalitas pelanggan yang lebih tinggi.
Bagi konsumen, daya tariknya adalah kenyamanan, biaya awal yang rendah, dan akses ke pembaruan berkelanjutan. Mengapa harus membeli CD seharga ratusan ribu jika Anda bisa mengakses jutaan lagu dengan biaya bulanan yang murah? Pergeseran ini merambah ke sektor fisik: kini ada langganan mobil, pakaian, bahkan perabotan. Kita tidak lagi membeli produk, kita membeli “akses” ke layanan produk tersebut.
Namun, model ini mulai mencapai titik jenuh. Konsumen kini dibombardir dengan puluhan tagihan kecil setiap bulan untuk layanan yang mungkin jarang mereka gunakan. Ini menciptakan fenomena “subscription fatigue”, di mana konsumen mulai mengevaluasi kembali langganan mana yang benar-benar penting. Masa depan model ini terletak pada fleksibilitas dan kemampuan untuk membuktikan nilai yang berkelanjutan, bukan sekadar mengunci pelanggan dalam pembayaran berulang.

