Dulu kita dikenal cuma sebagai ‘tukang gali’. Jual nikel mentah (ore) murah-murah ke luar negeri. Sekarang? Game-nya berubah total. Kita ‘paksa’ mereka bikin pabrik di sini. Inilah yang disebut ‘Hilirisasi’. Gokil!
Hasilnya? Indonesia mendadak jadi ‘kiblat’ baterai mobil listrik (EV) dunia. Pabrik-pabrik raksasa (Tiongkok, Korea) antre bangun smelter di Sulawesi dan Maluku. Ekspor kita bukan lagi ‘batu’, tapi ‘barang setengah jadi’ yang harganya 10x lipat. Cuan negara auto-naik!
Tapi, Ada ‘Harga’-nya?
Tapi… ada ‘tapi’-nya. Banyak yang kritik, hilirisasi ini ‘rakus’ energi (masih pakai PLTU batu bara) dan isu lingkungannya (limbah tambang) nggak main-main. Ini jadi ‘PR’ besar: gimana caranya jadi ‘kaya’ tapi nggak ngerusak alam?
Ini pertaruhan besar. Jika berhasil plus ‘ijo’ (ramah lingkungan), Indonesia fix jadi ‘Sultan’ di era mobil listrik. Jika gagal nanganin lingkungannya, kita cuma menang ‘sesaat’ tapi rugi ‘selamanya’. Pertaruhannya nggak main-main.
Intisari:
- Hilirisasi adalah kebijakan RI menyetop ekspor nikel mentah dan mewajibkan pemrosesan di dalam negeri.
- Tujuannya adalah menjadi pemain utama global dalam rantai pasok baterai mobil listrik (EV).
- Kebijakan ini sukses besar menarik investasi smelter raksasa dan meningkatkan nilai ekspor.
- Tantangan terbesarnya adalah isu lingkungan dan penggunaan energi yang belum ‘hijau’.

