Pembangunan smelter PT Freeport Indonesia di Gresik adalah proyek ambisius yang menandai era baru hilirisasi mineral di Indonesia. Artikel ini mengevaluasi signifikansi strategis proyek ini dalam meningkatkan nilai tambah komoditas tambang, potensi tantangan operasional dan lingkungan yang dihadapi, serta dampaknya terhadap ekonomi regional dan nasional.
Smelter di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik ini dirancang untuk menjadi salah satu fasilitas pemurnian tembaga single-line terbesar di dunia. Ini adalah wujud nyata dari amanat Undang-Undang Minerba yang melarang ekspor konsentrat mentah. Tujuannya jelas: Indonesia tidak lagi hanya menjadi pengekspor bahan baku, tetapi menjadi pemain utama dalam rantai nilai industri global, khususnya untuk tembaga dan emas.
Manfaat ekonomi yang diharapkan sangat besar. Proyek ini menyerap puluhan ribu tenaga kerja selama konstruksi dan ribuan tenaga kerja operasional. Lebih penting lagi, ketersediaan katoda tembaga murni di dalam negeri akan memicu pertumbuhan industri turunan, seperti pabrik kabel, komponen kendaraan listrik (EV), dan elektronik, yang sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.
Namun, tantangannya tidak kecil. Proyek sebesar ini membawa risiko lingkungan yang harus dikelola dengan ketat, terutama terkait limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) dan polusi udara. Selain itu, volatilitas harga komoditas global dan kompleksitas teknologi pemurnian memerlukan manajemen operasional yang sangat cermat agar proyek ini tidak hanya menjadi “monumen” mahal, tetapi benar-benar menjadi tonggak sejarah hilirisasi yang menguntungkan.

